Rabu, 14 Agustus 2024

Rabu, 07 Agustus 2024

RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.1

 

RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.1

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

Artikel



~ PEMANTIK ~

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Mengajarkan akademik anak itu penting, tetapi yang lebih penting adalah membentuk karakter, moral, Pemberdayaan potensi dan karakter sehingga dia berguna untuk diri dia sendiri dan untuk orang banyak.

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Ketika 3 Prinsip sudah dimaksimalkan, 4 Paradigma sudah dianalisa, 9 Langkah sudah digunakan maka dampak pada lingkungan yang  utama dari pengambilan keputusan adalah kemaslahatan.

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Segala sesuatu dalam pembelajaran adalah demi kepentingan peserta didik, termasuk pengambilan keputusan untuk hal yang fundamental dalam kelas memerlukan pendekatan persuasif dan diutamakan atas rasa perduli dan demi kepentingan orang banyak

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Seorang guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi mendidik, guru bertugas mempertebal potensi positif peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan zaman, sekolah adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan di masyarakat, seorang guru adalah petani dimana dia berkewajiban merawat tanaman agar tumbuh subur begitu pula dalam pendidikan guru merawat dan mengembangkan keterampilan juga karakter peserta didik agar dia mampu menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan cita-cita pendidikan Nasional.

 

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Pendidikan tidak hanya berbicara dan mengajarkan pengetahuan, tetapi ada yang lebih sakral yaitu mengantarkan karakter dan perilaku manusia untuk menjadi manusia yang seutuhnya yang berbudi, berakhlak sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional.

 

 

~ RANGKUMAN ~

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Kaitan antara Triloka KHD dengan pengambilan keputusan sangat erat, seorang guru memiliki tugas mulia yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri handayani. Semua semboyan ini memiliki arti filosofi yang sangat mulia, ketika berada di depan siswa seorang guru menjadi suri tauladan, ketika bersama-sama seorang guru akan mendampingi peserta didik, dan ketika berada di belakang seorang guru akan memberikan motivasi bagi peserta didik, sedangkan pengambilan keputusan memiliki 3 pola berfikir juga, yaitu 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dilemma etika, dan 9 langkah pengambilan keputusan yang sudah teruji. Prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dilemma etika dan 9 langkah pengambilan keputusan tersebut semuanya berada dalam lingkaran moral, seorang guru harus bijak dan arif dalam mengambil keputusan sebagai orang yang diteladani oleh peserta didik nya, seorang guru tepat sasaran dalam mengambil keputusan karena keputusan yang dia ambil berkaitan erat dengan kepentingan dan masa depan orang banyak, seorang guru harus menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan karena keputusan yang dia ambil harus benar dan membawa kemaslahatan.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Rasa tanggung jawab, teguhnya prinsip hidup, selalu ingin berbuat yang terbaik merupakan nilai-nilai dalam diri yang akan mempengaruhi prinsip pengambilan keputusan, karena keputusan yang diambil tidak akan lepas dari berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rules-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking).

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Sangat berkaitan, dalam melakukan Coaching kita dituntut untuk mengambil keputusan dengan benar yang diawali oleh pertanyaan-pertanyaan berbobot, menemani mitra dalam mengeluarkan pemikirannya dalam keluhannya. Pengambilan keputusan diperlukan setiap saat dalam melakukan Coaching, kita harus bisa menjadi pendengar yang baik dan ambil keputusan ketika langkah demi langkah coaching sudah dipenuhi. Dalam Coaching pengambilan keputusan yang sudah saya lakukan sangat efektif, yaitu mengajak Coachee saya agar berfikir untuk menemukan solusi dari dia sendiri.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Sangat berpengaruh, semakin tinggi kompetensi social emosionalnya maka pengambilan keputusan akan semakin tepat dan efisien, karena setiap mengambil keputusan dia akan menguji dari berbagai aspek. Apabila dia tidak memiliki kompetensi social emosional maka keputusan yang diambil bisa kurang tepat dikarenakan pengambilan keputusan yang diambil berdasarkan nafsu dan emosi maka akan menimbulkan kerancuan dalam perjalanan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Guru adalah agen perubahan dalam proses pembelajaran, sudah menjadi suatu keharusan mengetahui dan memahami profil belajar siswa serta kondisi sosial dan emosional dari peserta didiknya sebagai pemimpin pembelajaran dalam kelas dan juga panutan untuk peserta didiknya. Selain itu seorang siswa harus mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajarnya sehingga menjadi dilemma bagi mereka.

Disinilah pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, baik guru antar guru maupuun antara guru dengan peserta didik, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan berbobot sehingga murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya.

Selain itu juga untuk membentuk dan mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Pemimpin pembelajaran harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi dan juga dapat membedakan apakah permasalahan tersebut merupakan dilemma etika atau bujukan moral. Dengan nilai- nilai yang dimiliki seorang pendidik yaitu inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki  dalam mengambil keputusan dan mengatasi berbagai permasalahan. 

Pada akhirnya dengan nilai- nilai dari seorang guru tersebut, yang merupakan landasan pemikiran  yang dimiliki akan berpatokan pada prinsip melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/ nilai- nilai dala diri lita dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang guru akan dapat mengambil keptusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah kebutusan terkait permasalahan yang terjadi.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dalam pengambilan harus dianalisa terlebih dahulu apakah dilemma etika apakah bujukan moral, jika masuk ke dalam dilemma etika maka metode yang digunakan adalah 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputsan dan 9 langkah pengambilan keputusan. Dengan metode ini maka keputusan yang diambil tepat sasaran sehingga lingkungan menjadi positif, kondusif, aman, nyaman dan bahagia.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Ketika menyelesaikan suatu permasalahan tantangan yang paling berat adalah dilemma bahkan trimela etika, ketika ada 2 kepentingan berbeda tetapi sama-sama mengandung nilai kebenaran pengambilan keputsan dihadapkan dengan dilema yang besar. Sebagai pemimpin pembelajaran maupun pemimpin kelembagaan harus memiliki kesadaran diri yang tinggi.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pada hakikatnya pembelajaran adalah memberikan pelayanan kepada peserta didik dengan penuh kenyamanan dan kebahagian maka pengambilan keputusan ini diperlukan dimana saat melihat keberagaman siswa dalam kelas. Keleluasaan hati dalam menerima perbedaan ini diajarkan dalam Kompetensi Sosial Emosional, baik dalam manajemen diri maupun keterampilan berelasi. Keindahan dalam kelas dikarenakan adanya perbedaan, perbedaan keterampilan, keahlian, pengetahuan dan bakat. Tugas kita sebagai guru adalah melayani peserta didik di tengah-tengah perbedaan tersebut.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan kpeutusan seorang guru akan berdampak dalam masa depan siswa. Suatu contoh kasus tidak menaikan siswa ke tingkat selanjutnya, padahal seorang siswa memiliki hak untuk melanjutkan dan menggapai masa depannya, ketika tidak dinaikan oleh keputusan guru maka perekmbangan ke arah masa depannya akan terhambat. Artinya satu keputusan saja bisa berdampak pada kelangsungan kehidupan siswa di masa yang akan datang.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang bisa dihimpun dari materi modul  3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, bahwa materi-materi tersebut adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana Filosofi KHD bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Sekolah adalah tempat persemaian benih kebudayaan di masyarakat, oleh karena dia tempat persemaian maka siswa adalah benih-benih kebudayaan tersebut.

Dalam pelaksanaan perjalanan Pendidikan, dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami profil belajar siswanya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan, sehingga materi sebelumnya seperti Coaching dan Pengelolaan KSE sangat berkaitan erat dengan pengambilan keputusan.

Pada akhirnya dengan keterampilan coaching ini dapat membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri, tidak sebatas pada siswa keterampilan cocaching dapat diterapkan antar sesama uru, tentang permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh, sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Perpaduan antara pengambilan keputusan yang dijalani dengan proses coaching dan didasari dengan manajemen diri dalam 5 KSE maka akan lebih efisien dlaam pengambilan keputusan tersebut.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Dilema etika adalah kondisi dimana saya dihadapkan 2 permasalahan yang sama-sama mengandung nilai kebenaran, sedangkan bujukan moral adalah kondisi dimana saya harus memilih salah satu diantara dua benar dengan salah. Dilema etika memiliki 4 paradigma dilema etika diantaranya  rasa keadilan lawan rasa kasihan, individu lawan kelompok, kebenaran lawan kesetiaan, jangka pendek lawan jangka panjang, sedangkan 3 prinsip pengambilan keputusan diantaranya berfikir berbasis nilai akhir, berfikir berbasis aturan dan berfikir berbasis perduli.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, hanya saja saya belum sadar bahwa itu merupakan dilemma etika, maka dari itu dalam memutuskannya pun tidak berpatokan kepada prinsip pengambilan keputusan dan tidak didasarkan kepada 9 langkah pengambilan keputusan.

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Bagi saya pelajaran dari konsep ini hanya ada 3 hal. 1) tentang 4 Paradigma pengambilan keputusan, 2) tentang 3 Prinsip pengambilan keputusan, dan 3) tentang 9 langkah pengambilan keputusan. Sebelum saya memperlajari modul ini saya tidak tau tentang teori ini. Sekarang saya sebagai pemimpin pembelajaran tau tentang keilmuan ini. Dampak yang terjadi ke dalam diri saya pun ketika saya mengambil keputusan maka akan didasarkan kepada 9 langkah pengambilan keputusan.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting, dan ini terus menghampiri dalam kehidupan saya setiap hari nya.

 

Aan Amirudin, - 08 Agustus 2024



Kamis, 01 Agustus 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3
COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

Jurnal

 

Setelah mempelajari Modul 2.3 Saya baru tau bahwa

1.      Apa itu Coaching?

Coaching adalah bentuk kemitraan bersama klien untuk memaksimalkan potensi individu menuju kepada performa yang sebenarnya  melalui proses yang menstimulus dan mengeksplorasi pemikiran yang kreatif.

2.      Kompetensi Inti Coaching diantaranya

Kehadiran Penuh, Mendengarkan Aktif dan Mengajukan Pertanyaan Berbobot

3.      Metode Coaching dapat menggunakan Alur TIRTA

Tujuan Umum, Identifikasi Masalah, Rencana Aksi dan Tanggung Jawab

4.      Praktik Coaching

Saya dapat mempraktikan Coaching bersama rekan sejawat yaitu Pak Rino Umboro Hadi dan Pak Abdulloh yang memiliki masalah dalam performa pedagogicnya. Dengan menggunakan metode Alur TIRTA saya dapat menstimulus rekan sejawat (Coachee) menghasilkan ide-ide kreatif dari diri nya sendiri.


5.      Perasaan saya setelah mempelajari Modul 2.3

Pada awalnya saya belum memahami apa itu Coaching dan belum bisa membedakan Coaching, mentoring dan Konseling. Setelah saya mempelajarinya dalam Modul 2.3 saya memahami apa itu Coaching dan bahkan langsung mempraktikannya bersama rekan sejawat di Sekolah.

6.      Tidak lanjut saya di masa yang akan datang

Saya akan mengasah kemampuan saya dalam Coaching, dalam praktiknya nanti saya Siap jadi Coach dan siap jadi Coachee, bahkan bukan hanya sesame rekan guru tetapi dengan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.



Sabtu, 27 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

Artikel

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2.3

PEMIKIRAN REFLEKTIF

1.      Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh:

Dalam Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik, dalam pendidikan CGP saya belajar dan berbagi tentang penerapan teknik coaching dalam supervisi untuk mendorong rekan guru mencapai potensi maksimalnya. Pendekatan yang digunakan adalah coaching yang memiliki tiga prinsip: yaitu kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti yang harus dimiliki dalam coaching meliputi kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching mengikuti alur TIRTA: Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab. Supervisi akademik terdiri dari tiga tahapan: pra-observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan), dan pasca-observasi.

2.      Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar:

Saya merasa termotivasi dan lebih percaya diri untuk menerapkan pendekatan coaching dalam supervisi. Tetapi pemenuhan kompetensi saya sebagai coach belum tentu maksimal saya kuasai.

3.      Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar:

Saya telah mencoba untuk menerapkan beberapa teknik coaching saat mempraktikkannya dalam ruang kolaborasi maupun demonstrasi kontekstual dengan menggunakan alur TIRTA dan prinsip coaching, baik saat saya berperan sebagai coach, coachee, atau pengamat (observer).

4.      Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar:

Saya perlu meningkatkan kemampuan saya dalam merancang sesi coaching yang lebih terstruktur dan fokus sesuai alur TIRTA. Tetapi saya merasa percakapan coaching masih belum mencapai kedalaman yang diharapkan, danpercakapan akan sangat bergantung pada Coache juga dalam menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

5.      Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi:

Materi ini sangat relevan dengan kompetensi saya sebagai pendidik dan pemimpin pembelajaran. Ini membantu saya menjadi lebih efektif dalam memberikan supervisi yang memberdayakan dan mendukung perkembangan profesional rekan-rekan guru.

ANALISIS UNTUK IMPLEMENTASI



1.      Bagaimana cara terbaik untuk mengintegrasikan teknik coaching ke dalam rutinitas supervisi akademik yang sudah ada?

Cara terbaik untuk mengintegrasikan teknik coaching ke dalam rutinitas supervisi akademik yang sudah ada adalah dengan menggunakan alur TIRTA dalam setiap sesi. Mulai dengan percakapan pra-observasi untuk menetapkan tujuan, lakukan observasi dengan pendekatan persuasif bukan penghakiman, dan akhiri dengan percakapan pasca-observasi untuk refleksi serta perencanaan tindakan perbaikan. Konsistensi dan keterlibatan guru di setiap tahap akan meningkatkan efektivitas supervisi.

2.      Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru:

Saya mencoba mengolah materi yang dipelajari dengan menyesuaikannya dengan konteks sekolah saya. Misalnya, menggunakan sesi coaching singkat yang fokus pada tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh guru.

3.      Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah):

Tantangan terbesar adalah waktu yang terbatas dan beban kerja yang tinggi, yang bisa menghambat pelaksanaan coaching secara rutin. Selain itu, ada juga tantangan dalam memastikan semua guru terbuka dan siap menerima pendekatan coaching.

4.      Memunculkan alternatif solusi terhadap diidentifikasi:

 tantangan yang Sebagai solusi, saya bisa mulai dengan sesi coaching yang lebih singkat dan terfokus. Saya juga dapat mengintegrasikan coaching ke dalam pertemuan atau kegiatan lain yang sudah ada, untuk menghemat waktu dan sumber daya.

 

MEMBUAT KETERHUBUNGAN

1.      Pengalaman masa lalu:

Saya pernah disupervisi oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, tetapi kegiatan tersebut hanya sekadar pemenuhan kewajiban dan mentoring tanpa ada pasca observasi atau pasca supervisi.

2.      Penerapan di masa mendatang:

Harapan penerapan supervisi akademik di masa mendatang adalah agar proses ini dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Ini termasuk tahap pra- observasi, observasi, dan pasca-observasi. Dengan pendekatan coaching yang berfokus pada kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, diharapkan supervisi dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi pengembangan kompetensi guru. Melalui supervisi yang bermakna, guru akan mendapatkan umpan balik yang konstruktif dan relevan, sehingga dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

 3.      Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari:

Dalam Modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi, saya mempelajari pentingnya mengenali dan memenuhi kebutuhan belajar individual setiap siswa. Kemudian dilanjutkan dengan Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional mengajarkan pentingnya mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa sebagai bagian dari pembelajaran holistik. Dengan menggabungkan konsep dari modul 2.1 dan 2.2, coaching dalam supervisi akademik menjadi lebih komprehensif, mengembangkan keterampilan coaching yang berdiferensiasi dan memperhatikan aspek sosial emosional mitra/ coachee. Hal ini dapat menghasilkan situasi yang lebih inklusif dan suportif, serta memperkuat kualitas hasil coaching secara maksimal.

4.      Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP:

Saya mendapat banyak pengetahuan dari kegiatan diskusi dengan rekan-rekan CGP, yang memberikan perspektif tambahan tentang bagaimana mengatasi tantangan dalam supervisi akademik.

Pada akhirnya dengan Coaching maka Supervisi akademik akan menjadi lebih baik dan performa guru akan semakin meningkat tanpa merasa terpaksa dan tanpa merasa dihakimi, dan peningkatan ke arah yang lebih baik ini akan berlangsung secara berkelanjutan.

Rabu, 24 Juli 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 5 KSE

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2

5 KSE

 

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

4 F

 


Fact (Peristiwa)

Dalam modul 2.2 saya mempelajari Pembelajaran Sosial dan Emosional. mulai dari diri, Saya disambut dengan materi dan video dalam LMS dan diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman terkait dengan tugas Saya sebagai guru dalam pengelolaan sosial dan emosional. Bagaimana Saya menghadapi situasi tersebut, bagaimana Saya bisa mengatasi masalah emosi dan sosial, serta apa yang dapat Saya pelajari dari materi tersebut. Kemudian Saya mulai mendalami eksplorasi konsep yang berisi materi-materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, Pembelajaran serta Implementasinya di sekolah. Dilanjutkan dengan pengerjaan tugas yang berisi refleksi dari tiap-tiap halaman yang telah Saya pelajari. Tujuan dari materi Pembelajaran Sosial Emosional adalah memberikan pemahaman untuk mengelola emosi (kesadaran diri); menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri); merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial); dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Perasaan (Feeling)

Saya sangat senang mendapat pengetahuan baru yang berpengaruh terhadap penampilan saya menjalani profesi sebagai guru. Modul 2.2 saya mendapatkan hal yang besar terkait pengetahuan baru yang memacu saya lebih bersemangat dalam mengimplementasikan semua yang saya dapatkan. Saya juga melaksanakan Forum diskusi bersama fasilitator, Presentasi Tugas dan lain-lain, selama sesi ruang kolaborasi membuat saya semakin paham mengenai penguasaan emosi dari pembelajaran sosial dan emosional ini.

Pembelajaran (Findings)

Modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional banyak pengetahuan mengenai emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan, agar tindakan yang saya lakukan tidak berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola diri dan emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, masih banyak yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Semua materi tersebut bertujuan untuk ekosistem pendidikan yang baik di sekolah.

5 Kompetensi Sosial Emosional :

Definisi

Penerapan

Kesadaran Diri: kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan.

  • Dapat menggabungkan identitas pribadi dan identitas sosial
  • Mengidentifikasi  kekuatan/aset diri dan budaya
  • Mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri
  • Menunjukkan integritas dan kejujuran
  • Dapat menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai
  • Menguji dan mempertimbangkan prasangka dan bias
  • Memupuk efikasi diri
  • Memiliki pola pikir bertumbuh
  • Mengembangkan minat dan menetapkan arah tujuan hidup

Manajemen Diri: kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi

  • Mengelola emosi diri
  • Mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres
  • Menunjukkan disiplin dan motivasi diri
  • Merancang tujuan pribadi dan bersama
  • Menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir
  • Memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif
  • Mendemonstrasikan kendali diri dan dalam kelompok

Kesadaran Sosial: kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda

  • Mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain
  • Mengakui kemampuan/kekuatan orang lain
  • Mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih
  • Menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain
  • Memahami dan mengekspresikan rasa syukur
  • Mengidentifikasi ragam norma sosial, termasuk dengan norma-norma yang menunjukkan ketidakadilan

Keterampilan Berelasi: kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif

  • Berkomunikasi dengan efektif
  • Mengembangkan relasi/hubungan positif
  • Memperlihatkan kompetensi kebudayaan
  • Mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif
  • Dapat melawan tekanan sosial yang negatif
  • Menunjukkan sikap kepemimpinan dalam kelompok
  • Mencari dan menawarkan bantuan apabila membutuhkan
  • Turut membela hak-hak orang lain

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab: kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok

  • Menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran
  • Mengidentifikasi/mengenal solusi dari masalah pribadi dan sosial
  • Berlatih membuat keputusan beralasan/masuk akal, setelah menganalisis informasi, data, dan fakta
  • Mengantisipasi dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya
  • Menyadari bahwa keterampilan berpikir kritis sangat berguna baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah
  • Merefleksikan peran seseorang dalam memperkenalkan kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, keluarga, dan komunitas
  • Mengevaluasi dampak/pengaruh dari seseorang, hubungan interpersonal, komunitas, dan kelembagaan

 

Penerapan (Future)

Dari pendalaman materi KSE pada modul 2.2 ini saya akan menerapkannya dalam lingkup kelas yang saya ajar, seperti melakukan Bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran dengan teknik STOP di awal pembelajarn dan menuangkan 5 KSE dalam RPP / Modul Ajar.