This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

Artikel

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2.3

PEMIKIRAN REFLEKTIF

1.      Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh:

Dalam Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik, dalam pendidikan CGP saya belajar dan berbagi tentang penerapan teknik coaching dalam supervisi untuk mendorong rekan guru mencapai potensi maksimalnya. Pendekatan yang digunakan adalah coaching yang memiliki tiga prinsip: yaitu kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti yang harus dimiliki dalam coaching meliputi kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching mengikuti alur TIRTA: Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab. Supervisi akademik terdiri dari tiga tahapan: pra-observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan), dan pasca-observasi.

2.      Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar:

Saya merasa termotivasi dan lebih percaya diri untuk menerapkan pendekatan coaching dalam supervisi. Tetapi pemenuhan kompetensi saya sebagai coach belum tentu maksimal saya kuasai.

3.      Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar:

Saya telah mencoba untuk menerapkan beberapa teknik coaching saat mempraktikkannya dalam ruang kolaborasi maupun demonstrasi kontekstual dengan menggunakan alur TIRTA dan prinsip coaching, baik saat saya berperan sebagai coach, coachee, atau pengamat (observer).

4.      Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar:

Saya perlu meningkatkan kemampuan saya dalam merancang sesi coaching yang lebih terstruktur dan fokus sesuai alur TIRTA. Tetapi saya merasa percakapan coaching masih belum mencapai kedalaman yang diharapkan, danpercakapan akan sangat bergantung pada Coache juga dalam menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

5.      Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi:

Materi ini sangat relevan dengan kompetensi saya sebagai pendidik dan pemimpin pembelajaran. Ini membantu saya menjadi lebih efektif dalam memberikan supervisi yang memberdayakan dan mendukung perkembangan profesional rekan-rekan guru.

ANALISIS UNTUK IMPLEMENTASI



1.      Bagaimana cara terbaik untuk mengintegrasikan teknik coaching ke dalam rutinitas supervisi akademik yang sudah ada?

Cara terbaik untuk mengintegrasikan teknik coaching ke dalam rutinitas supervisi akademik yang sudah ada adalah dengan menggunakan alur TIRTA dalam setiap sesi. Mulai dengan percakapan pra-observasi untuk menetapkan tujuan, lakukan observasi dengan pendekatan persuasif bukan penghakiman, dan akhiri dengan percakapan pasca-observasi untuk refleksi serta perencanaan tindakan perbaikan. Konsistensi dan keterlibatan guru di setiap tahap akan meningkatkan efektivitas supervisi.

2.      Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru:

Saya mencoba mengolah materi yang dipelajari dengan menyesuaikannya dengan konteks sekolah saya. Misalnya, menggunakan sesi coaching singkat yang fokus pada tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh guru.

3.      Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah):

Tantangan terbesar adalah waktu yang terbatas dan beban kerja yang tinggi, yang bisa menghambat pelaksanaan coaching secara rutin. Selain itu, ada juga tantangan dalam memastikan semua guru terbuka dan siap menerima pendekatan coaching.

4.      Memunculkan alternatif solusi terhadap diidentifikasi:

 tantangan yang Sebagai solusi, saya bisa mulai dengan sesi coaching yang lebih singkat dan terfokus. Saya juga dapat mengintegrasikan coaching ke dalam pertemuan atau kegiatan lain yang sudah ada, untuk menghemat waktu dan sumber daya.

 

MEMBUAT KETERHUBUNGAN

1.      Pengalaman masa lalu:

Saya pernah disupervisi oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, tetapi kegiatan tersebut hanya sekadar pemenuhan kewajiban dan mentoring tanpa ada pasca observasi atau pasca supervisi.

2.      Penerapan di masa mendatang:

Harapan penerapan supervisi akademik di masa mendatang adalah agar proses ini dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Ini termasuk tahap pra- observasi, observasi, dan pasca-observasi. Dengan pendekatan coaching yang berfokus pada kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi, diharapkan supervisi dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi pengembangan kompetensi guru. Melalui supervisi yang bermakna, guru akan mendapatkan umpan balik yang konstruktif dan relevan, sehingga dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

 3.      Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari:

Dalam Modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi, saya mempelajari pentingnya mengenali dan memenuhi kebutuhan belajar individual setiap siswa. Kemudian dilanjutkan dengan Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional mengajarkan pentingnya mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa sebagai bagian dari pembelajaran holistik. Dengan menggabungkan konsep dari modul 2.1 dan 2.2, coaching dalam supervisi akademik menjadi lebih komprehensif, mengembangkan keterampilan coaching yang berdiferensiasi dan memperhatikan aspek sosial emosional mitra/ coachee. Hal ini dapat menghasilkan situasi yang lebih inklusif dan suportif, serta memperkuat kualitas hasil coaching secara maksimal.

4.      Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP:

Saya mendapat banyak pengetahuan dari kegiatan diskusi dengan rekan-rekan CGP, yang memberikan perspektif tambahan tentang bagaimana mengatasi tantangan dalam supervisi akademik.

Pada akhirnya dengan Coaching maka Supervisi akademik akan menjadi lebih baik dan performa guru akan semakin meningkat tanpa merasa terpaksa dan tanpa merasa dihakimi, dan peningkatan ke arah yang lebih baik ini akan berlangsung secara berkelanjutan.

Rabu, 24 Juli 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 5 KSE

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2

5 KSE

 

Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

4 F

 


Fact (Peristiwa)

Dalam modul 2.2 saya mempelajari Pembelajaran Sosial dan Emosional. mulai dari diri, Saya disambut dengan materi dan video dalam LMS dan diberikan beberapa pertanyaan tentang pengalaman terkait dengan tugas Saya sebagai guru dalam pengelolaan sosial dan emosional. Bagaimana Saya menghadapi situasi tersebut, bagaimana Saya bisa mengatasi masalah emosi dan sosial, serta apa yang dapat Saya pelajari dari materi tersebut. Kemudian Saya mulai mendalami eksplorasi konsep yang berisi materi-materi tentang Kompetensi Sosial Emosional, Pembelajaran serta Implementasinya di sekolah. Dilanjutkan dengan pengerjaan tugas yang berisi refleksi dari tiap-tiap halaman yang telah Saya pelajari. Tujuan dari materi Pembelajaran Sosial Emosional adalah memberikan pemahaman untuk mengelola emosi (kesadaran diri); menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri); merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial); dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Perasaan (Feeling)

Saya sangat senang mendapat pengetahuan baru yang berpengaruh terhadap penampilan saya menjalani profesi sebagai guru. Modul 2.2 saya mendapatkan hal yang besar terkait pengetahuan baru yang memacu saya lebih bersemangat dalam mengimplementasikan semua yang saya dapatkan. Saya juga melaksanakan Forum diskusi bersama fasilitator, Presentasi Tugas dan lain-lain, selama sesi ruang kolaborasi membuat saya semakin paham mengenai penguasaan emosi dari pembelajaran sosial dan emosional ini.

Pembelajaran (Findings)

Modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional banyak pengetahuan mengenai emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan, agar tindakan yang saya lakukan tidak berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola diri dan emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, masih banyak yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Semua materi tersebut bertujuan untuk ekosistem pendidikan yang baik di sekolah.

5 Kompetensi Sosial Emosional :

Definisi

Penerapan

Kesadaran Diri: kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan.

  • Dapat menggabungkan identitas pribadi dan identitas sosial
  • Mengidentifikasi  kekuatan/aset diri dan budaya
  • Mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri
  • Menunjukkan integritas dan kejujuran
  • Dapat menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai
  • Menguji dan mempertimbangkan prasangka dan bias
  • Memupuk efikasi diri
  • Memiliki pola pikir bertumbuh
  • Mengembangkan minat dan menetapkan arah tujuan hidup

Manajemen Diri: kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi

  • Mengelola emosi diri
  • Mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres
  • Menunjukkan disiplin dan motivasi diri
  • Merancang tujuan pribadi dan bersama
  • Menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir
  • Memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif
  • Mendemonstrasikan kendali diri dan dalam kelompok

Kesadaran Sosial: kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda

  • Mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain
  • Mengakui kemampuan/kekuatan orang lain
  • Mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih
  • Menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain
  • Memahami dan mengekspresikan rasa syukur
  • Mengidentifikasi ragam norma sosial, termasuk dengan norma-norma yang menunjukkan ketidakadilan

Keterampilan Berelasi: kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif

  • Berkomunikasi dengan efektif
  • Mengembangkan relasi/hubungan positif
  • Memperlihatkan kompetensi kebudayaan
  • Mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif
  • Dapat melawan tekanan sosial yang negatif
  • Menunjukkan sikap kepemimpinan dalam kelompok
  • Mencari dan menawarkan bantuan apabila membutuhkan
  • Turut membela hak-hak orang lain

Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab: kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok

  • Menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran
  • Mengidentifikasi/mengenal solusi dari masalah pribadi dan sosial
  • Berlatih membuat keputusan beralasan/masuk akal, setelah menganalisis informasi, data, dan fakta
  • Mengantisipasi dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya
  • Menyadari bahwa keterampilan berpikir kritis sangat berguna baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah
  • Merefleksikan peran seseorang dalam memperkenalkan kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, keluarga, dan komunitas
  • Mengevaluasi dampak/pengaruh dari seseorang, hubungan interpersonal, komunitas, dan kelembagaan

 

Penerapan (Future)

Dari pendalaman materi KSE pada modul 2.2 ini saya akan menerapkannya dalam lingkup kelas yang saya ajar, seperti melakukan Bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran dengan teknik STOP di awal pembelajarn dan menuangkan 5 KSE dalam RPP / Modul Ajar.


Senin, 08 Juli 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1

 JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI



Nama CGP

:

Aan Amirudin

Angkatan / Kelas

:

10 / 71

Unit Tugas

:

SMKN 6 Kota Tangerang Selatan

Pengajar Praktik

:

Estikajati

Fasilitator

:

Rossa Vini Anggalia

Model

:

4 F



Bagian

Narasi

Fact (Peristiwa)

Dalam Modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi Saya mulai belajar (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun modul ajar berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat. 

Feeling (Perasaan)

Setelah mempelajari modul 2.1 perasaan saya menjadi sangat senang dan semakin antusias untuk bisa menerapkan dilingkungan sekolah dan kelas. Pembelajaran berdiferensiasi membuat penasaran karena sebagai guru harus memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Selama ini hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi. Efek/ dampak yang ada mengabaikan bahwa ada banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya, namun guru dituntut bisa memfasilitasi murid dengan berbagai jalan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran bermakna yang saya peroleh setelah mempelajari modul 2.1 adalah murid karakter masing-masing. Mulai dari pengetahuaannya, cara belajar, gaya belajar, sikap keinginan dan sebagainya. Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 2.1 ini yaitu tentang Pembelajaran Berdiferensiasi maka saya akan berusaha menerapkan di kelas. Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggara dengan efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostic awal. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid.